Kalau kamu perhatikan, setiap hari kita berkomunikasi entah lewat lisan, tulisan, gesture, atau bahkan emoji di chat.
Tapi, pernah nggak sih kamu kepikiran apa aja yang membuat sebuah komunikasi bisa berjalan dengan baik?
Nah, di sinilah pentingnya kita memahami unsur-unsur komunikasi beserta penjelasannya.
Komunikasi bukan cuma soal ngomong dan didengar. Ia adalah proses yang punya struktur, melibatkan beberapa elemen penting yang saling berhubungan.
Tanpa salah satu unsur itu, komunikasi bisa gagal atau malah disalahartikan. Yuk kita bahas satu per satu, biar lebih paham.
1. Komunikator (Pengirim Pesan)
Semua komunikasi selalu dimulai dari seseorang atau pihak yang ingin menyampaikan pesan. Orang inilah yang disebut komunikator.
Bisa individu, kelompok, perusahaan, atau bahkan institusi.
Contohnya gampang: saat kamu buat story di Instagram, kamu adalah komunikatornya. Kamu sedang mengirimkan pesan ke followersmu entah itu berupa opini, ekspresi diri, atau informasi tertentu.
Dalam konteks yang lebih besar, misalnya dunia bisnis, komunikator bisa berupa brand atau perusahaan yang menyampaikan pesan kepada target audiens melalui iklan, email, atau konten.
Intinya, komunikator adalah sumber dari pesan. Dan kualitas komunikasi sangat dipengaruhi oleh kemampuan komunikator dalam menyampaikan pesan dengan jelas dan relevan.
2. Pesan (Message)
Unsur kedua adalah pesan yaitu isi dari komunikasi itu sendiri. Pesan bisa berupa kata-kata, simbol, gambar, suara, atau tindakan.
Tujuannya jelas: agar penerima memahami apa yang ingin disampaikan.
Contoh paling sederhana, saat kamu bilang ke teman, “Jangan lupa bawa charger ya,” itu adalah pesan informatif. Tapi kalau kamu bilang, “Aku seneng banget deh bisa ketemu kamu,” itu lebih ke pesan emosional.
Dalam dunia digital marketing, pesan punya peran vital. Misalnya, ketika kamu bikin copywriting untuk produk, pesan yang tepat bisa langsung menggerakkan orang buat beli. Tapi kalau pesannya membingungkan, ya hasilnya bisa nihil.
Baca juga : Apa Itu Komunikasi dan Contohnya dalam Kehidupan Sehari-hari
3. Media (Saluran)
Setelah pesan dibuat, tentu harus ada media atau saluran untuk menyampaikannya. Media bisa berupa lisan (langsung tatap muka), tulisan (chat, email, surat), visual (gambar, video), atau bahkan digital (sosial media, website, iklan online).
Sekarang, di era digital, pemilihan media jadi hal krusial.
Misalnya, pesan yang disampaikan lewat TikTok harus beda dengan yang dikirim lewat LinkedIn. Karena karakter audiensnya juga beda.
Media yang tepat bikin pesan lebih mudah diterima. Tapi kalau salah media, pesan yang bagus pun bisa kehilangan maknanya.
4. Komunikan (Penerima Pesan)
Komunikasi nggak akan terjadi kalau nggak ada penerima pesan. Nah, orang yang menerima dan menafsirkan pesan disebut komunikan. Komunikan bisa siapa saja: teman, pelanggan, audiens, bahkan masyarakat luas.
Setiap komunikan punya persepsi yang berbeda, tergantung pengalaman, emosi, dan konteksnya. Misalnya, kamu bilang “Ok” ke seseorang, bisa ditangkap sebagai setuju, cuek, atau malah marah tergantung situasinya.
Di sinilah pentingnya empati dalam komunikasi, memahami siapa penerima pesan, apa yang mereka butuhkan, dan bagaimana mereka berpikir. Kalau kamu bisa masuk ke cara pandang komunikan, pesanmu akan jauh lebih efektif.
5. Feedback (Umpan Balik)
Komunikasi yang baik selalu bersifat dua arah. Makanya, unsur berikutnya adalah **feedback** atau umpan balik.
Feedback adalah respon dari komunikan terhadap pesan yang diterima.
Contohnya, kalau kamu mengirim pesan “Kamu sibuk nggak?”, dan temanmu jawab “Nggak, kenapa?”, itulah feedback. Di dunia kerja, feedback juga bisa berupa laporan, komentar, atau hasil evaluasi.
Dalam konteks digital marketing, feedback bisa muncul dalam bentuk engagement like, komen, share, atau bahkan data performa iklan. Tanpa feedback, komunikator nggak tahu apakah pesannya berhasil diterima dengan benar atau tidak.
6. Efek (Dampak Komunikasi)
Setiap komunikasi pasti menimbulkan efek. Efek ini bisa berupa perubahan pengetahuan (kognitif), perasaan (afektif), atau perilaku (konatif).
Contoh: kamu nonton video motivasi, lalu termotivasi buat produktif itu efek komunikasi. Atau kamu baca iklan promo dan akhirnya beli produk itu juga efek komunikasi, tepatnya efek persuasif.
Efek ini jadi indikator penting untuk menilai keberhasilan komunikasi. Kalau pesan yang disampaikan bisa menggerakkan atau memengaruhi audiens, berarti komunikasinya berhasil.
7. Konteks (Situasi)
Unsur terakhir yang sering dilupakan adalah konteks yaitu situasi atau lingkungan di mana komunikasi terjadi.
Konteks bisa berupa kondisi sosial, budaya, waktu, tempat, atau bahkan suasana hati.
Misalnya, cara kamu ngomong ke dosen tentu beda dengan cara kamu bercanda dengan teman nongkrong.
Konteks ini menentukan gaya bahasa, nada bicara, dan bentuk pesan yang digunakan.
Dalam digital marketing, konteks juga penting banget. Misalnya, timing posting di media sosial, tren yang sedang viral, atau kondisi pasar. Semua itu memengaruhi cara pesan diterima oleh audiens.
Baca juga : Fungsi Komunikasi dalam Kehidupan Sehari-hari
Dari semua penjelasan di atas, kita bisa simpulkan bahwa unsur-unsur komunikasi terdiri dari komunikator, pesan, media, komunikan, feedback, efek, dan konteks.
Semua unsur ini saling terkait dan membentuk satu kesatuan yang menentukan keberhasilan komunikasi.
Tanpa komunikator, nggak ada pesan. Tanpa pesan, nggak ada yang dikirim. Tanpa media, pesan nggak bisa sampai. Tanpa komunikan, komunikasi jadi sia-sia. Dan tanpa konteks yang tepat, maknanya bisa salah ditangkap, itu dia kesimpulan yang ku dapatkan setelah 2,5 tahun belajar ilmu komunikasi.
Jadi, kalau kamu ingin jadi komunikator yang efektif baik di dunia nyata maupun digital pahami dulu semua unsur ini.
Karena pada akhirnya, komunikasi yang baik bukan cuma soal berbicara, tapi soal bagaimana pesanmu bisa diterima, dimengerti, dan berdampak.








Leave a Comment