Kalau kamu pernah belajar komunikasi, pasti sudah nggak asing lagi dengan istilah model komunikasi. Tapi buat yang baru mendalami dunia ini — tenang aja. Artikel ini bakal jelasin secara santai dan jelas tentang apa itu model komunikasi menurut para ahli, lengkap dengan contohnya biar kamu gampang paham.
Apa Itu Model Komunikasi?
Model komunikasi adalah gambaran atau kerangka yang menjelaskan bagaimana proses komunikasi terjadi — mulai dari pengirim pesan, isi pesan, saluran yang digunakan, hingga penerima pesan dan hasil akhirnya. Model ini penting banget karena membantu kita memahami di mana letak masalah dalam komunikasi dan bagaimana cara memperbaikinya.
Nah, dalam sejarahnya, banyak banget ahli yang bikin model komunikasi. Tapi kali ini kita bahas yang paling populer dan sering dijadikan referensi.
1. Model Komunikasi Linear (Shannon dan Weaver)
Model ini muncul di tahun 1949 dan sering dianggap sebagai model komunikasi paling klasik. Shannon dan Weaver menjelaskan bahwa komunikasi itu seperti proses pengiriman pesan dari satu titik ke titik lain.
Ada beberapa elemen utama:
- Sumber (Sender): orang yang membuat pesan.
- Pesan (Message): informasi yang dikirim.
- Saluran (Channel): media yang digunakan untuk mengirim pesan (misal: suara, tulisan, sinyal).
- Penerima (Receiver): orang yang menerima pesan.
- Noise (Gangguan): segala sesuatu yang bisa menghambat pesan.
Contohnya: kamu ngomong ke teman lewat telepon, tapi sinyalnya jelek. Nah, sinyal yang putus-putus itu adalah “noise”.
Baca juga : Apa Itu Komunikasi dan Contohnya dalam Kehidupan Sehari-hari
2. Model Komunikasi Interaksional (Wilbur Schramm)
Schramm memperbarui model Shannon dan Weaver dengan menambahkan unsur feedback (umpan balik). Artinya, komunikasi itu nggak cuma satu arah, tapi dua arah — saling memberi respon.
Misalnya, kamu kirim pesan lewat WhatsApp, temanmu bales “Oke, siap!”. Nah, balasan itu disebut umpan balik yang menandakan pesanmu diterima dengan baik.
Model ini lebih realistis, karena dalam kehidupan nyata komunikasi memang terjadi secara interaktif, bukan sekadar kirim pesan lalu selesai.
3. Model Komunikasi Transaksional (Barnlund)
Barnlund melangkah lebih jauh dengan mengatakan bahwa komunikasi itu terjadi secara simultan. Artinya, kita bisa jadi pengirim dan penerima pesan di waktu yang sama.
Bayangin kamu lagi ngobrol langsung sama seseorang. Saat dia bicara, kamu ngangguk, senyum, atau kasih ekspresi itu semua bentuk respon yang terjadi bersamaan dengan proses pengiriman pesan.
Model ini cocok banget untuk menggambarkan komunikasi dalam kehidupan nyata, apalagi di era digital di mana interaksi bisa terjadi sangat cepat dan kompleks.
Baca juga : Fungsi Komunikasi dalam Kehidupan Sehari-hari
4. Model Komunikasi Lasswell
Harold Lasswell punya rumus terkenal yang sering banget dijadikan dasar analisis komunikasi:
“Who says what in which channel to whom with what effect”
Atau kalau diterjemahkan:
Siapa yang mengatakan apa, melalui saluran apa, kepada siapa, dan dengan efek apa.
Model ini sering dipakai dalam dunia komunikasi massa, kayak iklan, berita, atau kampanye politik. Misalnya:
- Who: Tim marketing
- Says what: Pesan promosi produk
- In which channel: Media sosial (Instagram)
- To whom: Target audiens (remaja)
- With what effect: Meningkatkan kesadaran merek
Dengan model ini, kita bisa menganalisis efektivitas pesan dan menilai apakah strategi komunikasinya berhasil.
5. Model Komunikasi Berlo (SMCR)
David K. Berlo memperkenalkan model SMCR (Source, Message, Channel, Receiver). Fokusnya lebih ke kemampuan individu dalam menyampaikan dan menerima pesan.
- Source: kemampuan pengirim (pengetahuan, sikap, keterampilan).
- Message: isi pesan (struktur, isi, gaya bahasa).
- Channel: alat yang digunakan (indera pendengaran, penglihatan, dll).
- Receiver: kemampuan penerima pesan.
Contohnya, dosen yang berkomunikasi dengan mahasiswa harus menyesuaikan bahasa dan gaya bicaranya supaya pesan bisa diterima dengan baik. Kalau bahasanya terlalu rumit, komunikasi bisa gagal.
6. Model Komunikasi Helical (Dance)
Frank Dance memperkenalkan model helical (spiral) yang menggambarkan bahwa komunikasi itu berkembang terus-menerus. Artinya, setiap pengalaman komunikasi sebelumnya memengaruhi komunikasi berikutnya.
Misalnya, pertama kali kamu kenalan sama orang baru, obrolannya mungkin masih canggung. Tapi setelah beberapa kali ketemu, komunikasi jadi lebih lancar dan saling memahami. Nah, itu contoh model spiral — komunikasi yang terus berevolusi.
Baca juga : Jenis-Jenis Komunikasi dalam Organisasi dan Contohnya
Kenapa Model Komunikasi Itu Penting?
- Karena lewat model-model ini, kita bisa:
- Memahami bagaimana pesan berjalan.
- Mengetahui hambatan yang mungkin muncul.
- Menganalisis apakah komunikasi berjalan efektif.
Menentukan strategi komunikasi yang tepat (terutama dalam organisasi, media, dan pemasaran).
Model komunikasi juga membantu kita berpikir lebih sistematis, apalagi kalau kamu bekerja di bidang public relations, digital marketing, atau jurnalisme.
Dari Shannon-Weaver sampai Barnlund, semua model komunikasi punya keunikan dan fungsi masing-masing. Nggak ada model yang paling benar semua tergantung konteks penggunaannya. Tapi yang pasti, dengan memahami berbagai model ini, kamu bisa lebih peka terhadap bagaimana pesan disampaikan dan diterima.
Kalau kamu mau mendalami lebih jauh tentang penerapan komunikasi di dunia digital dan organisasi modern, baca juga artikelku selanjutnya tentang “Strategi Komunikasi Efektif di Era Digital”.
Baca juga: Unsur-Unsur Komunikasi Beserta Penjelasannya
Karena pada akhirnya, komunikasi yang baik bukan cuma soal berbicara tapi soal memahami dan dimengerti.








Leave a Comment