Cara Membuat Website yang Tidak Cuma Bagus Dilihat, Tapi Juga Dipakai

Wiaam Rifqi

May 11, 2026

5
Min Read
Cara Membuat Website yang Tidak Cuma Bagus Dilihat, Tapi Juga Dipakai
Banyak orang salah kaprah soal website.

Banyak orang salah kaprah soal website.

Mereka pikir tugas selesai begitu desainnya keren, warnanya matching, dan logo sudah terpasang di pojok kiri atas.

Lalu mereka publish, share ke grup, dapat pujian — dan dua minggu kemudian bertanya-tanya kenapa tidak ada yang beli, tidak ada yang daftar, tidak ada yang melakukan apapun.

Masalahnya bukan di desain. Masalahnya ada di satu hal yang sering dilewatkan: apakah website itu enak dipakai?

Bagus dan Enak Dipakai Itu Dua Hal Berbeda

Ini titik yang paling sering diabaikan.

Website yang bagus secara visual bisa saja menyiksa penggunanya. Animasi yang berat, navigasi yang membingungkan, tombol yang susah ditemukan — semua itu tidak kelihatan waktu desainer lagi preview di Figma. Tapi pengunjung merasakannya dalam 3 detik pertama.

Dan begitu mereka frustrasi, mereka pergi. Tidak balik lagi.

Visual itu menarik perhatian. Tapi yang bikin orang tetap di halaman — dan akhirnya action — adalah pengalaman memakai website itu.

Pertanyaan yang Harus Kamu Tanya Sebelum Mulai Desain

Sebelum kamu buka Figma, WordPress, atau apapun tools-nya, tanya ini dulu:

Siapa yang akan pakai website ini, dan mereka datang untuk apa?

Bukan “siapa target market”-nya dalam artian demografis. Tapi secara konkret: mereka buka website kamu sambil lagi ngapain? Di HP atau laptop? Punya berapa menit sebelum mereka bosan?

Jawaban dari pertanyaan ini menentukan segalanya — ukuran font, urutan konten, panjang teks, sampai tombol CTA harus ditaruh di mana.

Kalau kamu skip bagian ini dan langsung eksekusi desain, kamu sedang membangun sesuatu untuk diri sendiri, bukan untuk penggunanya.

Navigasi: Kalau Harus Dipikir, Sudah Gagal

Ada satu aturan tidak tertulis di dunia UX:

Kalau pengunjung harus berpikir untuk menemukan sesuatu, navigasimu sudah gagal.

Website yang baik itu intuitif. Pengunjung tidak perlu baca manual. Mereka buka, scroll, dan tahu harus ke mana.

Masalah paling umum yang bikin navigasi rusak:

  • Menu terlalu banyak item — otak manusia tidak bisa proses lebih dari 5–7 pilihan sekaligus dengan nyaman
  • Label yang ambigu — “Solusi Kami” itu artinya apa? Produk? Layanan? Portfolio?
  • Halaman penting dikubur tiga klik dari homepage

Kalau kamu ingin test apakah navigasimu masuk akal, minta seseorang yang belum pernah lihat websitemu untuk menemukan satu informasi spesifik. Amati tanpa kasih petunjuk. Di mana mereka bingung, di situlah masalahnya.

Kecepatan Bukan Fitur Tambahan

Ini yang sering dianggap urusan teknis dan diserahkan ke developer belakangan.

Padahal kecepatan loading itu langsung berdampak ke konversi. Bukan teori — sudah terbukti berkali-kali. Website yang loadingnya lebih dari 3 detik kehilangan sebagian besar pengunjungnya sebelum halaman selesai tampil.

Penyebab paling umum website lambat:

  • Gambar tidak dikompress — foto 4MB diupload langsung dari kamera
  • Font dari Google Fonts yang loadingnya bergantung koneksi ke server luar
  • Plugin atau script yang jalan di background tanpa perlu

Solusinya bukan selalu beli hosting mahal. Seringkali cukup dengan kompress gambar, batasi plugin, dan minimalkan animasi yang tidak perlu.

Mobile Bukan “Versi Kedua”

Ini sudah bukan era di mana mobile adalah afterthought.

Lebih dari separuh traffic website hari ini datang dari HP. Tapi masih banyak website yang didesain di layar laptop lebar, lalu “disesuaikan” untuk mobile belakangan — dan hasilnya kelihatan.

Teks yang terlalu kecil. Tombol yang terlalu rapat. Gambar yang terpotong. Form yang susah diisi pakai jempol.

Kalau kamu tidak pernah buka websitemu sendiri dari HP dengan koneksi biasa (bukan WiFi kantor yang ngebut), kamu belum benar-benar tahu seperti apa pengalaman sebagian besar pengunjungmu.

Mulai dari desain mobile dulu, baru desktop — bukan sebaliknya.

Konten yang Tidak Dibaca Tidak Berguna

Banyak pemilik website jatuh cinta dengan konten mereka sendiri.

Mereka tulis paragraf panjang tentang sejarah perusahaan, visi misi, daftar layanan dengan deskripsi masing-masing tiga alinea. Semuanya terasa penting — dari sudut pandang mereka.

Tapi pengunjung tidak baca dari atas ke bawah. Mereka scan. Mereka cari satu hal: ini relevan buat gue tidak?

Kalau dalam 5 detik pertama mereka tidak ketemu jawaban itu, mereka tutup tab.

Jadi bukan soal kontennya bagus atau tidak. Tapi apakah kontennya mudah dikonsumsi? Apakah hierarki informasinya membantu mata pengunjung menemukan yang paling penting duluan?

Judul yang jelas, subheading yang informatif, paragraf pendek, dan satu poin per blok teks — itu bukan soal selera estetika. Itu soal apakah kontenmu dibaca atau di-skip.

CTA: Jangan Bikin Pengunjung Tebak-Tebakan

Call to action yang lemah itu bukan yang terlalu “salesy”. CTA yang lemah adalah yang ambigu atau tidak kelihatan.

“Hubungi Kami” itu CTA yang malas. Hubungi untuk apa? Lewat mana? Kapan dibalas?

“Konsultasi gratis 30 menit, langsung chat WhatsApp” — itu berbeda. Ada kejelasan, ada ekspektasi, ada langkah konkret.

Satu halaman, satu tujuan utama. Kalau kamu taruh lima tombol dengan prioritas yang sama, pengunjung tidak tahu harus klik yang mana — dan akhirnya tidak klik satupun.

Yang Membedakan Website yang Bekerja dengan yang Sekadar Ada

Website yang bekerja bukan yang paling mewah tampilannya.

Bukan yang paling banyak animasinya. Bukan yang logo-nya paling keren.

Website yang bekerja adalah yang pengunjungnya tahu harus ngapain, bisa melakukannya dengan mudah, dan tidak punya alasan untuk pergi sebelum mereka action.

Itu standarnya. Dan kalau websitemu belum sampai di sana, berarti masih ada yang perlu diperbaiki — bukan ditambahkan.

Kalau kamu sedang bangun atau revamp website dan tidak yakin bagian mana yang paling bermasalah, audit dulu sebelum redesign — karena seringkali masalahnya bukan di tampilan, tapi di hal yang tidak kelihatan sampai kamu benar-benar mencarinya.

Baca Juga: Cara Website Membantu Bisnis Terlihat Lebih Dipercaya

Leave a Comment

POsting terkait